Showing posts with label Heavy Thoughts. Show all posts
Showing posts with label Heavy Thoughts. Show all posts
Ratih

It was so easy being cynical. Apalagi kalo sudah berhadapan sama yang namanya pemerintahan. Negara, politik, hukum, keadilan, duh gak ada habisnya. Lebih gampang jadi sinis dari pada positif menghadapi urusan yang berkaitan dengan negara.

Macem-macem, mulai dari urusan hukum, urusan kesehatan sampe urusan olahraga, ujung-ujungnya sepak bola. Ah capek. Lebih gampang nutup mata daripada ikut ngurusin woro-woro berita, mending tutup kuping daripada dengerin berita yang isinya rusuh melulu. Jauh lebih gampang jadi orang sinis di Indonesia. Saya gak manas-manasin kok, tapi nyatanya begitu. Fakta. Apa sih yang gampang di Indonesia? Gak ada kan? Gampang kalo sudah berhadapan dengan uang, padahal, berapa banyak orang kaya sih di Indonesia, sebagian kecil doang. Tapi pengaruhnya besar. Kami yang duitnya pas-pasan, berkecukupan cuma bisa gigit jari. Apa-apa susah, mau makan susah, sakit susah, apalagi mau senang, susah. Duh, bener lah orang-orang bilang wong cilik dilarang sakit.

Jadi ya begitu, sekarang mau presidennya siapa, menterinya siapa gak urus. Wong sama saja kok, tetap susah. Tutup mata, yang penting perut kenyang hati tenang, urusan senang gak senang belakangan. Yang penting bisa hidup hari ini dan mikirin besok bisa makan pakai apa.

Lebih gampang kan jadi orang yang tidak pedulian? Sampai-sampai slogan Sea Games “AYO DUKUNG INDONESIA” berkumandang. Aneh ah. Menurut saya aneh. Kenapa? Seharusnya kan sudah otomatis Indonesia didukung di Sea Games. Memangnya ada orang yang gak dukung Indonesia di Sea Games? Nyatanya, banyak. Ya itu, orang-orang sinis, yang jumlahnya bertambah banyak. Kenapa bisa tambah banyak? Antara orang-orang itu ndablek atau kecewa. Kecewa akan banyak hal, seperti yang saya jabarin di atas tadi. Oh, bisa juga orang yang matanya sudah tertutup akan kata “Indonesia” tapi terbuka kalau dengar kata “Amerika”. Saya gak mempersalahkan dengan orang yang mengagumi Amerika, saya sendiri terkagum-kagum dengan negara adidaya itu, semua ada di Amerika, saya sendiri kalau dibayari mau saja ke Amerika. Masalahnya banyak orang yang lupa kalau mereka itu hidup di Indonesia, nafas di Indonesia, makan di Indonesia, masih bilang “kalo gak makan nasi gak kenyang” tapi begitu suruh dukung Indonesia langsung mencibir. Berani bilang ah, orang Indonesia gak ramah, gak pernah tanya kabar kalo ketemu. Helooh? You tinggal di gua mana?

Lebih gampang jadi orang pesimis di Indonesia, “Ah palingan itu koruptor bentar lagi bebas”, “Ah palingan itu rekayasa”, “Alaaaah, gak mungkin itu orang di penjara beneran, palingan selnya udah vip”. Masalahnya, semua kalimat di atas benar. Sudah terbukti kan koruptor bebas melenggang keluar masuk penjara, hukuman penjara hanya 5 tahun, namun dapat keringanan dan lain-lain jadinya baru 2,5 tahun sudah bebas dari hukuman penjara. Di penjara, tapi sel nya ber-AC, flat-screen TV dan tidur beralaskan spring bed. Saya senyum selebar-lebarnya. Ah biasa, pak mentri hukum dan HAM yang barusan di reshuffle itu cinta mati sama koruptor.

Itu urusan politik, sekarang pindah ke urusan olah raga, sepak bola. Mungkin Cuma di Indonesia yang urusan sepak bolanya diurusi oleh politisi. Bagaimana bisa Riedl yang berjaya memasukkan Indonesia ke final piala AFF dipecat karena dianggap tidak sukses melatih timnas? Lalu sekarang nasib Timnas senior bagaimana? Dari 4 empat pertandingan pra-kualifikasi piala dunia hasilnya? Menang.., menangis. Terlihat bagaimana mental pemain Indonesia jatuh sejatuhnya dibandingkan dengan saat dipegang Riedl dulu, namun masih saja pelatih yang sekarang tidak mau disalahkan karena kekalahan Timnas Indonesia. Duh.

Sekarang di Sea Games, Timnas U-23 dipegang oleh Rahmad Darmawan, sejauh ini hasilnya menggembirakan, semangat anak muda yang menggelora membuahkan Indonesia runner-up grup. Kalah 1-0 dari malaysia karena saat itu yang diturunkan pemain lapis kedua, demi lusanya Indonesia mengahadapi vietnam di semifinal. Hasilnya, Indonesia masuk final, lagi-lagi menghadapi Malaysia.

Tapi ya, berhubung jadi orang sinis di Indonesia lebih gampang, kalimat seperti “Yaah, biasalah lagi bagus aja mainnya”, “halah lagi beruntung aja itu”, “gara-gara di kandang aja mainnya jadi bagus” berkumandang dimana-mana. Tidak bisa dipungkiri bahwa main di kandang merupakan poin plus buat Indonesia, karena ketambahan satu pemain lagi, yaitu SUPORTER. Teriakan membahana dan aura positif dari suporter masuk ke telinga pemain Timnas dan mengendap di hati, membakar semangat menghasilkan energi yang luar biasa. Orang-orang pesimis, buang ke laut aja, pemain Timnas tidak butuh aura negatif dari kalian.

Lho, saya jadi labil, saya ini rakyat Indonesia yang sinis dan pesimis atau optimis sih?

Berhubung saya masih hidup di Indonesia, saya masih makan, mandi, nafas di Indonesia, saya bangga akan budaya Indonesia, saya bangga akan keramahan rakyat Indonesia, saya mencintai lagu Indonesia Raya, saya memutuskan jadi optimis. Sounds cheesy, tapi saya percaya Indonesia akan jadi lebih baik.

Regards.

Ratih
Halo, here I am at Dunkin' Donuts (again), typing words I don't even know what to type (apa sih).
Ga kerasa tahun ini umur saya 23 tahun, dan berapa penghasilan saya sebulan?

0

zero

nol

kosong

bunder

telor

Kecuali jika hasil humas-an toko online @mirzanom bisa dihitung, maka penghasilan saya sebulan Rp. 200.000,- saja (jika rajin).
Ugh.
Lalu duit untuk hidup sebulan di Yogya didapat dari mana?
Jawabannya satu, orang tua
(jderrrrr, kayak dipaku di kepala)
Bisa dibilang "wajar dong, kan belum S1", tapi, kadang kala terasa sungkan minta uang berlebih sama ortu untuk beli baju yang lucu-lucu, pump shoes to-die-for atau NYX pallet eyeshadow yang sudah pasti kalo ortu tau, menghela napas dan berkata "buat apaan beli gituan??"

Envy berat sama temen-temen yang sudah kerja tapi belum bekeluarga, pemasukan ada dua, yang utama pasti dari gajinya sendiri, dan dari ortu yang baik hati (menunaikan tugas seperti orang tua yang baik). Bisa beli barang yang diinginkan hasil kerja keras sebulan. Iri iri iri berat.

Tapi yang paling enak, JIKA kita bisa hidup tanpa ada yang menggaji, alias, kita yang mengatur datangnya uang dengan sendirinya. Yaitu dengan..... wirausaha.

Seseorang yang paling dekat dengan saya adalah contoh sukses seseorang yang melakukan wirausaha. Siapa lagi, kalo bukan @mirzanom.
Kuliah dengan dua jurusan yang sangat jauh berbeda, dengan kampus yang berbeda pula, masih sempat terpikir untuk melakukan bisnisnya sendiri, hasil brainstorming hobi kameranya.

Well, sekarang dia bisa bayar spp dua kuliahnya tersebut, bayar cicilan mobil, dan seabrek pengeluaran lainnya.

krik

krik

krik

Saya masih menengadahkan tangan, istilah kasarnya ngemis ke orang tua. JDERRRRRR
*jeduk-jedukkin kepala.

Uffffff....


Inhale, exhale, inhale, exhale...

Seharusnya, jika dia bisa, saya juga bisa kan. KAN?

Kita semua bisa kan?

:)


Ratih
Cicak versus buaya.

Hal itu santer terdengar beberapa minggu terakhir ini, KPK versus Polri menjadi perbincangan yang santer terdengar dimana-mana. Bahkan beberapa stasiun televisi membuat dialog khusus dengan berbagai pakar baik dari pengamat politik, ICW, Jaksa hingga kepolisian. Semua pihak saling mengungkapkan pendapat masing-masing, ada yang bertentangan, ada yang saling setuju namun yang perlu dilihat disini adalah, sebenarnya apa yang sedang terjadi hingga ada pihak-pihak yang mengganggu kestabilan NKRI.

KPK kini berada di ujung tanduk. Panglima pemberantasan korupsi di Indonesia ini sempat membuat siapapun yang terlibat korupsi bergidik. Karena lembaga ini tak segan-segan menangkap pelaku korupsi, tanpa kecuali. KPK dibentuk tahun 2003 dengan harapan mampu mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi. Kemampuan KPK memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sempat diragukan banyak pihak. Maklum masalah korupsi di Indonesia sepertinya sudah mendarah daging. http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2009/09/16/90486/Nasib-KPK-Di-Ujung-Tanduk

Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Danang Widoyoko mengatakan bahwa “Ini bagian serangan terhadap KPK.” Serangan terhadap KPK ini menurut Danang mulai terlihat dua bulan lalu saat 25 auditor BPKP ditarik dari KPK. Padahal KPK sedang butuh. Audit tersebut merupakan bentuk ketakutan para pejabat. Karena, kiprah KPK yang selama ini dianggap sukses menjerat para koruptor dinilai membahayakan. http://public.kompasiana.com/2009/06/26/sby-takut-kpk/

Apakah ini serangan? Apakah ini kriminalisasi terhadap pihak-pihak tertentu? Tentu saja hal ini masih sumir dan bias. Di saat orang nomor wahid KPK tengah meringkuk di hotel rodeo (saat ini telah menjadi mantan orang nomor wahid, karena kekuasaan telah berpindah tangan ke Tumpak Panggabean), serta dua pemimpin KPK lain terjerat kasus yang BAP-nya berubah-ubah, KPK masih harus terus mengusut berbagai kasus termasuk kasus bank Century yang telah berganti nama menjadi Mutiara Bank.

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang timbul dari permasalahan KPK versus Polri ini.

1. Sebagai lembaga independen, KPK memiliki wewenang khusus bisa “memreteli” seluk-beluk pemerintahan Indonesia, termasuk DPR. Lalu, siapakah yang dapat mengerem laju buas KPK?

2. Keputusan-keputusan yang dibuat oleh Polri seakan-akan telah mendapat restu dari presiden. Yang harus dipertanyakan disini adalah, dibalik kampanye SBY yang mengagung-agungkan pemberantasan korupsi dan tercetak jelas penghormatan terhadap KPK, mengapa saat ini presiden bergeming untuk mengusut kasus ini secara tuntas dengan adil dan terbuka? Sumir dan bias, dakwaan terhadap Antasari Azhar dan kasus fiktif yang menimpa Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto dalam penyalahgunaan wewenang, menjadi hal penting yang patut di garis bawahi, mau dibawa kemana hukum di negeri ini?

3. Apakah ini permainan dari Polri? Ataukah permainan KPK yang tercium oleh Polri?


Ratih
Pewarta-Indonesia, Celoteh Wilson Lalengke - Falasi Iklan Partai Demokrat

“Hukuman mati patut bagi para pelaku kejahatan berat, seperti pembunuhan, perampokan disertai pembunuhan, dan sejenisnya. Saat ini, sanksi untuk koruptor hanya berupa hukuman denda dan pidana kurungan beberapa tahun. Karena korupsi mengakibatkan terambilnya uang negara dalam jumlah sangat besar secara tidak sah, dan hal itu bisa menghilangkan nyawa orang lain yang tidak berdosa, misalnya rakyat mati kelaparan dan akibat tidak tersedia pelayanan kesehatan, maka hukuman mati pantas ditimpakan kepada koruptor.”

Cuplikan di atas adalah salah satu contoh alur pikir yang dikembangkan dalam mengambil kesimpulan atas sebuah fenomena. Kebetulan yang jadi contoh kasus adalah perdebatan sanksi hukuman bagi koruptor. Sepintas lalu, alur pikir di atas ada benarnya. Logika yang digunakan juga cukup logis. Namun, sesungguhnya cara berpikir tersebut tergolong salah. Contoh di atas biasa disebut falasi (fallacy) atau kesesatan dalam penalaran. Secara singkat, "membunuh" tidak sama dan sebangun dengan "berpotensi membunuh". Sehingga hukuman bagi seorang yang berpotensi membunuh orang lain – karena korupsi – tidak relevan untuk disamakan dengan hukuman bagi seseorang yang sudah membunuh. Seperti juga, hukuman bagi pembunuh karena membela diri tidak sama dengan pidana atas kasus pembunuhan berencana.

Kita tinggalkan kasus itu. Dalam ilmu filsafat, salah satu materi kajian utama adalah Falasi. Para pakar filsafat punya pandangan yang beragam tentang falasi ini. Namun, satu hal yang disepakati bersama bahwa falasi adalah kesesatan dalam penalaran. Falasi adalah pola logika yang keliru dalam mengembangkan suatu pernyataan. Suatu pernyataan dapat disebut falasi (kesesatan) jika didukung oleh argumen yang salah sama sekali atau tidak relevan alias jauh panggang dari api. Namun dapat juga, falasi itu terbentuk karena argumen penunjangnya sangat lemah. Orang yang berkecimpung di bidang hukum sangat paham tentang hal ini, dan celakanya, mereka sangat doyan memainkan falasi tersebut untuk saling mematahkan satu sama lain ketika berseteru di pengadilan. Kemampuan memanipulasi dan memanfaatkan falasi itulah yang akhirnya mencuatkan seorang ahli hukum (terutama kebanyakan pengacara) ke level “elite hukum” tingkat atas di negeri bernama Indonesia. Tidak heran jika pembenahan hukum di negara kita adalah ibarat mengurai benang paling amat super kusut di dunia.Lantas, apa hubungan hal-hal di atas dengan judul tulisan ini, Falasi Iklan Partai Demokrat? Kaitannya adalah bahwa banyak dari iklan-iklan yang dimunculkan di media massa, cetak maupun elektronik, mengandung falasi, pernyataan yang menyesatkan. Salah satunya yang amat kental falasi-nya adalah iklan Penurunan Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) Partai Demokrat.

Secara ringkas, inti iklan itu adalah menyampaikan kehebatan SBY dengan Partai Demokrat-nya yang dalam masa pemerintahannya bisa menurunkan harga BBM sebanyak 3 kali. Hal itu baru pertama terjadi sejak Indonesia merdeka. Dengan lihai, ditampilkan sosok masyarakat marginal, seperti nelayan, petani, ibu rumah tangga yang begitu gembira menerima kebijakan penurunan BBM yang telah dilakukan 3 kali hanya dalam rentang waktu kurang dari 2 bulan. Fantastis dan amat mempesona memang, dan tentu saja kita perlu mengapresiasi kebijakan “bijaksana” dari pucuk pemerintahan negeri ini.Tapi persoalannya adalah ketika ditampilkan seorang ibu yang menyampaikan ucapan kira-kira begini: “Terima kasih Pak SBY!”, dan lebih parah lagi ada ajakan untuk memilih Partai Demokrat yang mendukung kebijakan SBY menurunkan harga BBM. Dari sisi politik praktis, mungkin hal tersebut wajar saja, walaupun aroma bau busuknya juga tidak dapat ditutupi. Akan tetapi dari sisi etika politik, fenomena itu adalah kesalahan yang tidak perlu terjadi, apalagi oleh seorang presiden. Mengapa? Karena argument yang digunakan dalam konsep iklan itu tergolong falasi, yang menyesatkan masyarakat Indonesia yang mayoritasnya nota benne masih belum melek pendidikan secara memadai.

Beberapa alasan yang dapat menjadi renungan bagi masyarakat banyak, termasuk pembuat iklan dan Partai Demokrat, sebagai berikut: pertama, Persoalan harga BBM dan kebijakan yang melingkupinya ditentukan oleh sistem pasar: supply and demand, persediaan dan permintaan. Ketika pasar menuntut harga rendah karena stok banyak, maka harga BBM secara otomatis turun. Jadi, jika harga BBM turun hingga beratus kali pun, itu bukan karena “cerdasnya” kebijakan SBY – Partai Demokrat, tapi karena tuntutan sistim pasar. Bila saja pemerintah tidak menurunkan harga BBM, pasti banyak implikasi buruk lain yang akan terjadi yang salah satunya adalah demonstrasi mahasiswa dan rakyat akan meluas dan mengganggu kestabilan negara yang sedang menghadapi pemilu mendatang. Sayangnya, justru SBY termasuk pemimpin yang senang menangkapi para demonstran dan menjebloskannya ke dalam “kotak hitam”. Pola bernalar yang benar adalah bahwa harga BBM turun 3 kali disebabkan oleh dukungan rakyat yang minta harga tersebut menyesuaikan harga pasar minyak dunia, tanpa embel-embel SBY dan apalagi Partai Demokrat. Konsekwensi logisnya, para pendekar demonstrasi menurunkan harga BBM, termasuk mereka yang menolak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu, adalah pihak yang benar dan perlu diapresiasi oleh masyarakat. Kedua, sebenarnya istilah penurunan harga BBM kurang tepat. Kata “penyesuaian harga” masih lebih masuk akal.

Bagaimana mau dibilang harga turun jika kenyataannya tidak demikian? Harga awal BBM dalam negeri sebelum mengalami kenaikan adalah Rp. 4.000,- per liter untuk jenis premium. Pada saat itu harga minyak dunia berkisar pada angka USD 60 per barel (159 liter) atau sama dengan Rp. 3.773,6 per liter (kurs USD 1 = Rp. 10.000,-). Ketika harga minyak dunia mencapai USD 120 per barel menjelang pertengahan tahun lalu, harga BBM jenis premium naik menjadi Rp. 6.000,- per liter,. Logikanya harus naik menjadi Rp. 8.000,- per liter, kerena harga real eceran minyak dunia adalah USD 120 x Rp. 10.000,- : 159 liter = 7.547,- per liter. Nyatanya harga yang ditetapkan pemerintah hanya Rp. 6.000,- yang artinya turun Rp. 2.000,- dari harga seharusnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa pada saat harga BBM naik, sebenarnya pada saat itu, harga BBM dalam negeri mengalami penurunan.Saat ini, harga minyak dunia hampir stabil di USD 50 per barel, tapi harga BBM jenis premium justru hanya disesuaikan menjadi Rp. 4.500,- per liter (penurunan harga terakhir). Jika mengikuti hitung-hitungan seperti di atas tadi, maka seharusnya harga bensin hanya berkisar di Rp. 3.200,- hingga 3.300,- per liter (USD 50 x Rp. 10.000,- : 159 liter = 3.144,7 per liter). Artinya, harga BBM saat ini justru naik lebih dari Rp. 1.500,- per liter dari harga sesungguhnya. Pertanyaan melebar yang akhirnya muncul dari utak-atik angka ini adalah benarkah ada biaya subsidi BBM yang selama ini menjadi hantu gentayangan APBN Indonesia? (Ini jadi renungan lain lagi bagi kita semua).

Ketiga, kebijakan pemerintah tidak kongruen (sama dan sebangun) dengan kebijakan seorang SBY dan apalagi sebuah partai. Justru sebenarnya, masyarakat menilai bahwa penanganan persoalan ekonomi termasuk soal BBM selama ini, “think tank”-nya adalah JK. Konversi minyak tanah ke gas, yang dalam beberapa hal masih menyimpan kendala, diskusi tentang perlu-tidak-nya harga BBM naik dan turun, dan seterusnya, adalah “makanan” Sang Toke Pribumi, Jusuf Kalla. Jadi amat naïf jika SBY mengklaim turunnya harga BBM sebagai kebijakan pribadi dan partainya seperti di iklan tivi itu. JK pun termasuk menyebarkan falasi jika mengklaim hal ini.Falasi yang dilakukan SBY – Partai Demokrat itu dalam ilmu filsafat dikelompokan kepada Post Hoc Fallacy atau False Cause (alasan yang salah). Nama kasus falasi jenis ini diambil dari bahasa Latin “post hoc, ergo propter hoc” yang dapat diartikan sebagai “setelah ini, maka akibatnya”.

Contoh berikut yang dikutip dari http://www.unc.edu/depts/wcweb/handouts/fallacies.html kiranya bisa menjadi rujukan. "President Jones raised taxes, and then the rate of violent crime went up. Jones is responsible for the rise in crime." (Terjemahan bebas: Presiden Jones menaikan pajak, dan akibatnya tindakan kriminal bertambah banyak. Oleh sebab itu, Pak Jones bertanggung-jawab atas kenaikan jumlah tindakan kriminal tersebut). Cara berpikir pada kasus Presiden Jones ini jelas salah, karena keputusan seorang presiden adalah kebijakan pemerintah yang dalam hal ini mengatas-namakan negara. Demikian juga pada kasus turunnya secara beruntun harga BBM belakangan ini, tidak dapat dianggap sebagai kebijakan seseorang atau satu partai saja.Melihat fenomena iklan SBY – Partai Demokrat itu, kita hanya berharap kiranya bangsa ini tidak makin terpuruk dalam kemiskinan intelektual karena falasi-falasi yang dikampanyekan oleh para elite politik nasional.

Tapi harapan itu terasa sungguh amat jauh dari jangkauan mimpi, karena faktanya pucuk pimpinan pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi di republik ini juga menjadi agen falasi di negeri leluhurnya.*** http://www.pewarta-indonesia.com/nspirasi/Opini/celoteh-wilson-lalengke-falasi-iklan-partai-demokrat.html


So, kita sebagai warga muda yang harusnya sudah melek pendidikan, sebaiknya kita mencerna dulu apa yang ditampilkan di muka kita. We know we could, jangan cuma jadi ABS dan penjilat.

salam..
Ratih

hari ini pesta demokrasi terbesar di Indonesia..

big question, is it true??

hemm..

you answer it..

bosen ngomong politik mulu, gak berubah,, gini-gini aja. hehe


tadi pagi saya nonton berita di tvOne. tadi jam 11.23 tepatnya. acaranya tentang pemilu live tps nya SBY. disitu disiarin langsung suasana tempat SBY nyoblos beserta keluarga. Yang mau saya cermati disini adalah, komentar-komentar yang di berikan oleh news anchor tvOne dan narasumber..

sempat terdengar kalimat-kalimat seperti:
"ya ini, SBY sebelum memasukkan kertas suara, pastinya pose dulu"
"wah ini kertas suaranya dia masukkan yang warna kuning dulu, wah pertanda buruk ini ya"
"SBY tersenyum walaupun seperti senyum terpaksa"
"wah itu kenapa tintanya di jempol ya?"
"sepertinya kalo di kelingking susah disorotnya"
"hahahaha"
"mungkin kelingkingnya bisulan jadi di jempol"
"sekarang SBY sudah tidak tersenyum lagi"

dan lain-lain..

menurut saya itu komentar2 yang tidak perlu diutarakan jika sedang live. apalagi mereka berstatus news anchor yang seharusnya sudah pasti memiliki intelektualitas tinggi..

atau kah saya saja yang terlalu sensitif..?

Ratih


Saya lagi mikirin banyak hal. Yang paling sering muncul di pikiran saya ya tentang pemilu. Pesta demokrasi terbesar di Indonesia.

Akhir minggu lalu ibu saya dateng, njenguk anak paling gedenya ini yang merantau menuntut ilmu di Jogja. Hehe. Sebenernya ibu saya kesini mau ngajakin saya ke Sragen, nengok eyang saya. Huuh, ternyata saya di nomor duakan. Hehehe. Oke, bukan itu intinya.

Waktu saya naik taksi dari kos ke bandara buat jemput si ibu, saya sempet ngobrol-ngobrol dikit sama si bapak taksinya.

Bapak Taksi : selamat pagi mbak, tujuannya kemana ini?
Saya : pagi pak, ke bandara ya
BP : iya mbak
S : lewat ringroad aja ya pak
BP : iya mbak, nanti kalo lewat kota lama, banyak lampu merahnya
............
BP : mbak suka musik nggak nih?
S : oo, boleh-boleh pak, monggo
……..
We had joy we had fun we had season in the sun…
S : (ternyata bapak ini pecinta Westlife)

Saya pun iseng-iseng bertanya tentang pemilu,,sumpah saya gak ada kerjaan banget ya..

S : pak, pemilu besok ndukung yang mana nih?
BP : wah mbak, saya gak tahu yang mana (sambil ketawa-ketawa)
BP : yang mana aja lah mbak, hehehe. Kalo mbak sendiri bagaimana?
S : waah pak, saya taun ini gak bisa ikut pak, surat mutasi nya gak ada
BP : lho, emangnya mbak-nya ini asli mana?
S : tangerang pak..
BP : ooooo...
S : yang mana aja asal apa-apa murah aja lah ya pak (sambil ketawa)
BP : wah mbak, saya sudah gak mikirin itu lagi. Terserah aja mbak siapa yang mimpin besok. Wong kita rakyat kecil teriak-teriak minta diperhatikan aja gak didengerin kok ya..
S : iya ya pak....

Miris rasanya saya denger kata-kata kayak gitu. Masih banyak orang Indonesia yang berpikir seperti itu. Lain lagi sama sodara-sodara saya..

S : bulik besok nyontreng mana lik?
Bulik : halah-halah mbak, wes yang mana aja deh. Sama aja

Reaksi yang sama. Sungguh bingung saya ini. Saya sangat ingin punya kesempatan buat milih, tapi ga bisa. 1.033 mahasiswa UGM belum dapet kepastian mereka bisa milih disini ato ga. Dan itu hanya sebagian kecil yang mau mendaftarkan diri untuk minta bantuan mutasi. Dan kabar yang saya ketahui kepastian mutasi berhasil atau ga baru bisa diketahui 3 hari sebelum pemilu. Malah ada yang bilang sehari sebelum.

Kesimpukan yang saya tarik dari percakapan saya diatas tadi bahwa; rakyat Indonesia sudah mencapai titik lelahnya dalam memilih. Karena semuanya tidak berdampak apa-apa pada mereka.

Kita masih terjajah. Dan apakah pemilu besok bisa disebut pesta?

Presiden kita sibuk kampanye, begitu juga pak wapres. Lalu sebenernya yang sekarang menjalankan pemerintahan kita siapa?
Bapak presiden sehari setelah tiba di Indonesia setelah knferensi G-20 langsung kampanye, sedangkan pak wapres sudah melanglang buana. Kondisi yang sangat rawan.
Kalo yang saya baca di Kompas sih ”untung angkatan bersenjata kita tahu bahwa kudeta itu haram. Keadaan seperti ini sangat rawan”

Bukan berarti saya menyerap semua yang saya baca dari koran, tapi itu bener adanya. Jauh di bawah alam sadar kita, sebenernya kita capek. Tapi kaum muda berpikir itu bukan bidangnya. Dan saya gak kepingin menjadi seperti itu.
Kaum penggerak bangsa ini adalah kita.

Sekarang tanggal 5 april 2009. dan masih banyak ketidak beresan yang terjadi dalam mempersiapkan pemilu. Ribuan pemilih ganda, pemilih di bawah umur, pemilih di bawah umur, tidak terpilih dalam daftar pemilih tetap, kurangnya surat suara, dan lain-lain.

Makin banyak lembaga survei yang melakukan poling yang kurang relevan, masih banyak pelanggaran kampanye yang dilakukan parpol padahal sudah masuk di putaran terakhir, dan yang paling parah, 4 hari sebelum pemilu, masih banyak parpol yang di coret sama KPU karena belum menyerahkan rekening kampanye dan tidak punya calon legislative.

Di jalan raya jogja-solo, daerah klaten gitu saya lihat spanduk tulisannya ”kami punya hak pilih, tapi bukan untuk PKB”
Di lain tempat, saya baca berita, ada spanduk mengatakan ”bosan pilih nomor 31? Pilih nomor 13 saja”

Apakah boleh menyerang seperti itu?

Menurut saya, etika dan norma sudah tidak dipedulikan lagi sekarang, yang penting keinginan politik tercapai. Is it really what we want?

Saya rasa tidak.


Kemaren pas di Sragen saya dan mamah ngajarin eyang saya buat nyontreng. Sebagai eyang-eyang yang hidup 60 tahunan yang lalu pendidikan masih menjadi hal yang mahal buat orang kecil. Dan eyang saya termasuk di dalamnya. Walaupun kalo ngitung uang dan dagang jago setengah mati, tapi tetep aja yang namanya nyontreng adalah hal baru buat beliau.

Dan sebenernya, nyoblos, silang, dan nggaris pun dinyatakan sah dalam surat suara. Trus kenapa kita ga nyoblos aja sih? Gak repot dan masyarakat tidak perlu bersusah payah dalam mengerjakannya.

Memang betul, Indonesia harus maju, tapi ingat, sebagian besar rakyat Indonesia masih dalam taraf terbelakang, ya pendidikan, ya finansial. Jadi sebenernya, KPU tuh tau rakyat Indonesia gak sih?

Oh ya,, ada kejadian lucu.
Waktu saya lagi di lampu merah sama si Mas, ada kejadian yang menurut saya tidak pantas dilakukan.
Pas lampu nyala warna ijo, mobil-mobil di depan saya malah berhenti, setelah saya dan si Mas nyalip (berhubung kita naik motor, kita jadi bisa nyelip-nyelip sesuai adat), ternyata di depan, ada mobil partai bergambar bendera dan nama caleg di body mobil-nya yang berhenti pas di tengah-tengah jalan, dan si pengemudi turun dengan santainya buat marah-marah ke mobil belakangnya. Kayaknya mobil partai itu gak sengaja kesundul mobil belakangnya.

Yang mau saya cermati disini adalah, apakah betul perbuatan yang dilakukan si pengemudi bener adanya? Apa boleh mementingkan emosi pribadi di tengah jalan dan menggangu kenyamanan orang lain. Harusnya dia bisa pull over dulu dan ngomongin di pinggir jalan. Oh ya mobil partai nya itu ada tulisannya ”Lanjutkan..!” tau kan, itu tagline-nya partai apa. Hehhe. Saya ga menyudutkan lho, cuma membeberkan fakta.

We’re smart people. We have to be. Jangan mau kita diperlakukan seperti itu oleh orang-orang yang menamakan dirinya wakil rakyat tapi mereka sendiri tidak pernah merakyat.

We know we could.

5 april 2009
Ratih

Sekarang saya lagi bingung ya, di dunia ini banyak banget masalah. Ya tentu saja sih, Allah menciptakan suatu keadaan menjadi masalah supaya manusia bisa belajar dan menyelesaikan masalah tersebut.

Yang saya gak ngerti, beberapa dari kita suka melarikan diri dari masalah. Yang kecil aja deh, kalo misalnya kita mecahin gelas mama, ato ngerusak benda milik orang lain, tapi orang itu gak tau, pasti kadang kita suka gak gentle, gak mau mengakui kalo kita yang ngerusak. Kita bilang "gak tau tuh, pas aku liat bentuknya udah kayak gitu".

Bahkan, orang yang melarikan diri dari masalah, nekat melakukan hal-hal kesadaran, seperti bunuh diri.

Saya pernah liat di suatu berita sore-sore, ada seorang wanita yang nekat terjun dari lantai paling atas sebuah mall di sumatera, gara-gara menggelapkan uang perusahaannya 50 juta. Sebelum terjun, dia udah menyayat nadi di pergelangan tangannya,,cuma saya rasa dia bingung kok gak meninggal juga, lalu dia berpikir yaaa terjun ajalah.

Untungnya siih, dia gak sadar di bawahnya udah ada yang nyelametin pake matras, kalo dia sadar dan niat banget bunuh diri, dia lompat ke arah yang beda sama letak matras (ato emg dia gak bener-bener niat ya? Hehe).

Yang saya cermati disini, si wanita begitu stresnya sampe mau mengakhiri hidup gara-gara menggelapkan uang. Tapi banyak pejabat, menteri, anggota DPR, beramai-ramai korupsi dan menggelapkan uang tanpa diliputi rasa bersalah.

Begitu banyak ke-tidaktransparansi-an di DPR membuat DPR menjadi lahan empuk dan basah untuk bermain skandal (korupsi, suap, dsb).

Ada berita baru, rencananya DPR akan membuat gedung baru dalam rangka tutup periode 2004/2009. Desain sudah jadi, tetapi banyak di antaranya tidak setuju desainnya dan memilih untuk disayembarakan saja. Saya mikir, buat apa sih membenahi ruang kerja, membuat ruang rapat baru kalo orang-orang DPR nya aja tukang bolos? Ntar malah jadi ruangan serem tak berpenghuni. Liat aja sekarang, makin deket pemilu, yang rapat bukannya makin banyak tapi makin sedikit. Padahal koran-koran udah banyak mengulas loh siapa yang izin sakit, siapa yang bolos, siapa yang tidur, siapa yang suka ngobrol sendiri. Berapa jumlah yang izin, berapa jumlah yang sakit. Presiden juga pernah jelas-jelas menegur siapa yang tidur (ato ngobrol sendiri ya) pas anggota DPR lagi dengerin pidato dari Presiden. Dan parahnya lagi, kekosongan ruang rapat mendekati pemilu merupakan peristiwa berulang dari periode sebelum-sebelumnya. Apa gak malu ya?

Harusnya yang dibenahi tu kinerjanya, bukan bangunannya.

Salah satu dari fraksi partai bilang "kalaupun desainnya ada, tidak akan langsung dibangun, duitnya belum ada". Hahaha, taruhan, begitu duitnya ada gak berapa lama pasti banyak kasus korupsi bermunculan lagi.

Hem, balik lagi ke budaya bolos tadi,, pada periode ini DPR sudah membuat 62 UU dari 80 UU yang ditargetkan. Kemana yang 18 lagi? Salah satu UU yang dibuat adalah larangan meroko di tempat umum. Peraturan tersebut pada kenyataannya masih belum berjalan saat ini. Padahal, biaya buat menyusun UU bisa menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah (saya suka bingung, banyak banget ya, tapi kalo kata si Pop mah wajar, hemmm?).

UU larangan merokok di tempat umum tidak berhasil sebagaimana mestinya karena sanksi yang ada belum diterapkan secara maksimal, masih kurangnya fasilitas untuk merokok di tempat umum dan kurangnya sosialisasi masyarakat. Fatwa MUI bahwa merokok haram hanya sebagai angin lalu saja (saya disini bukan fans MUI loh, menurut saya MUI merupakan suatu organisasi yang bingung hendak dibawa kemana negara ini).

Lantas jika perusahaan rokok gulung tikar, pengangguran bertambah? Hem, bagai buah simalakama ya.

16 februari 2009

Ratih
lagi kuliah ni, laper, bosen. keadaan saya seperti ini bikin saya ngelamun hal-hal di luar apa yang sedang diterangkan dosen saya. he

oiyaaaaa, lagi pada demam BB ya? saya juga kepingin ikutan.. tapi kemampuan kantong yang terbatas sama ke-gaptek-an akan BB lebih besar dibandingkan dengan kemampuan saya meraih BB. hahaha

rasa-rasanya asyik ya pake BB, online 24 hours 7 days a week, jadi yang paling update around the world, tau berita paling baru, sensasional, bombastis n muk'takir.. hehehe

tapii, yang agak-agak bingung, ada yg bilang pake BB jadi autis, gak aware sama keadaan sekitar, n cenderung ga pedulian sama sms or telpon. hemmm
kalo menurut saya siiih, mungkin itu karena baru pada punya BB ajaaa, jadi autis deh

saya juga autis kok kadang-kadang, apalagi klo ngadepin makanan enak, lupa daratan deh. xp.

oiyaaaa
ada bioskop baru dijogja, EMPIRE XXI, lagi jadi topik perbincangan hangat di kawula muda (haiyah). filem-filem yang diputer sih katanya bakal lebih up2date daripada bioskop sebelumnya,,
hemmm jadi pengen nonton ntar..




sial, ada praktikum...
19 maret 2009
11.25 am


Ratih

Tanggal 1 februari kemaren dulu saya nonton suatu acara musik yang mengusung tema “Konser Baik Axis bersama D’Masiv”, GProduction. Karena saya lagi ngefans sama d’masiv saya, si Pop, dan beberapa teman berencana nonton bareng. Di papan iklan ditulis pukul 17.00. Saya pun datang jam 17.30, dengan maksud bukan terlambat tapi memang Cuma pengen liat d’masiv nya aja, saya lagi gak tertarik nonton band-band pembuka yang Cuma nyanyiin lagunya sendiri, susah buat nikmatinnya.

Okei anyway, setelah mendarat dengan mulus di stadion kridsono, si Pop beli tiket, harganya 20.000 termasuk kartu perdana. Saya sempet kaget, weheheh mahal juga ya. Tp gpp lah, dapet starterpack.

Truus, saya masuk stadion, ho, ternyata masih check sound, backdrop belum dipasang. Masih ada pekerja yang manjat-manjat di sekitar panggung benerin ini-itu. Oke, saya mikir, kalo yang check sound saat ini masih band pembuka, brarti d’masivnya belum check sound juga, biasanya band utama check sound 45 menit – 1 jam, hmm, mungkin mulai jam 18, ato jam 18.30 lah paling telat.

Saya dan si Pop memutuskan untuk jalan-jalan dulu, skaligus nyari tempat numpang buang air kecil di luar stadion kridosono. Sambil duduk-duduk istirahat sebentar.

Habis magrib jam 18.30 saya balik lagi ke stadion, ternyata belum mulai juga. Ngantri sebentar di pintu masuk, screening tiket, trus saya masuk di stadion. Ho ternyata belum mulai juga. Masih jingle provider yang diouter di big screen. Berkali-kali selama kurang lebih satu jam. Jam 19.30, acara belum mulai juga, saya mikir lagi, hem, ngaret lama juga ya, 2,5 jam. Dan tiba-tiba di tengah kebosanan menongkrong di tengah-tengah stadion, tiba-tiba hujan sodara-sodara, hujan deres. Walhasil si Pop yang lagi megang kamera buru-buru lari ke arah tribun, menyelamatan nyawa kameranya. Setelah ujan sekitar 20 menit, acara mulai, band pembuka main. Dengan hati agak seneng krn ujan brenti, saya pun ke tengah stadion lagi buat nonton. Daripada bengong duduk di tribun mending saya nonton band. Tapi ternyata, ujan lagi sodara-sodara. Saya pun balik lagi ke tribun dengan misuh-misuh.

Hujan gak berhenti, setelah band pembuka pertama main, saya bersiap buat nonton d’masiv di bawah guyuran hujan. Tapi ternyata, band pembuka yang lain, dan setelahnya another band pembuka. D’masivnya kapaan? Saya pengen teriak frustasi,, acara lo telat banget maaaan, ujaaaaaaan, lo gak antisipasi apa, pake pawang kek, pake cabe ama bawang ditusukin pake lidi kek, solat puasa dzikir kek, pake lampu tembak kek, band pembuka lo kebanyakan gilaaaaa, di cut kek jangan dikasi waktu main penuh, ato gimana kek. Hoh, kesel banget rasanya.

Setelah perjuangan nunggu (nunggu itu ga enak, apalagi kita udah bayar dan Cuma dapet nunggu, it’s totally SUCK), D’masiv pun naik panggung. Sekitar jam 22.15. Bawain satu album, membuat saya agak seneng sedikit. Rasa kesel yang melanda, halah, dikit-dikit mulai ilang. Ya gak ilang sama sekali lah, gimana rasanya sih nunggu acara yang ngaret, ujan dan gak jelas.

Saya sama sekali gak keberatan dengan tanah becek bikin sepatu sama celana kotor. Yang saya kecewa, suau event yang cukup besar, diadakan oleh provider yang lagi promosi habis-habisan, dan tentunya menggandeng rumah produksi, ato EO, ato apalah itu sebutannya, yang pastinya berkualitas. Tapi, ternyata acara ngaret begitu lama, hujan, dan band pembuka terlalu banyak.

Seharusnya kalo memang belum tau jam berapa mulai, jangan ditulis jam-nya doang. Tulis ‘gate open at’ ato apa gitu, biar penonton gak kecewa. Tulis juga opening act-nya siapa aja, supaya jelas. Dan klarifikasi, kenapa lo ngaret, kenapa acara lo bisa ujan (emang sih pas musim ujan, tapi lo harus bisa antisipasi ), dan kenapa band pembuka lo begitu banyak. Kok perasaan saya sewot banget ya?

Ya karena pekerjaan yang paling gak menyenankan di dunia itu menunggu, apalagi di tengah hujan dengan suasana gak enak. Itu sama sekali gak enak. We pay some money to see a good show, not a totally-suck-show.

So, kepada mas-mbak provider and promoter, jangan jadi orang yang Cuma bisa meneriakkan “karena Axis BAAAAAAIK” tapi bener-bener jadi yang baik lah biar bisa bikin acara yang baik. No offense lho.

Gak pengen kan, konser-konsernya batal teruuus? (skali lagi no offense lho :))

12 februari 2009

Ratih
Kalo kita liat sekarang-sekarang ini, lagi musim kampanye, bentar lagi mau pemilu legislative soalnya. Dimana-mana gambar caleg. Di pohon, di tiang listrik, di papan billboard yang gede banget yang biasanya buat iklan rokok, bahkan bikin baliho bambu sendiri. Padahal yaa, kalo yang saya tahu sih buat bayar pajak baliho itu gak murah. Apalagi yang di papan billboard itu.

Mungkin klise banget ya kalo sekarang saya nulis tentang betapa banyak caleg gak bermutu yang gembar-gembor mau merubah nasib rakyat (disini berarti nasib saya, nasib kamu, nasib orang miskin, nasib bapak ibu saya, nasib petani, nasib tukang ojek, nasib clubbers, nasib anak kos, nasib pegawai dan nasib oang-orang lain), tapi mereka sendiri gak punya latar belakang pendidikan yang jelas, atau setidaknya pengalaman dalam mengurus nasib rakyat.


Kalo diliat-liat, bener kata orang-orang caleg cuma pengangguran yang nyoba-nyoba peruntungan duduk di kursi DPR ato DPRD yang akirnya Cuma tidur, ngobrol sendiri kalo gak mangkir pas lagi ada sidang. Pantes aja ya, PNS-PNS sering ketangkep basah sama John Pantau lagi blanja di mall siang-siang, ato berkeliaran entah dimana pas apel pagi. Wong anggota DPR aja bisa bolos, kenapa PNS gak bisa?
Pak, Bu, plis deh, kalian tuh digaji pake uang rakyat loh, pake pajak (walopun saya belum punya NPWP), mbok kerja yang bener gitu. Hadirlah yang baik, tunaikan tugas dengan seksama, ato kalo bener-bener kepala batu dan gak punya hati tetep pengen bolos, mbok ya dirumah aja bolosnya. Apa gak malu pake seragam kebesaran tapi mondar-mandir di mall sambil arisan?

Ngomongin caleg, saya jadi inget partai-partai politik di Negara kita. Boleh gak sih ngomong langsung partainya apa? Enggak ya? SARA? Hehehe.
Oke, salah satu partai bilang kerja pemerintah kita yang sekarang gagal, partai pembela pemerintah bales nyerang bilang capres dari partai itu do nothing, mereka do something. Dan itu diulas di Koran pake tulisan gede-gede. Apa gak malu? Saya juga bingung gimana, padahal pemilu besok merupakan kesempatan saya nyoblos pertama kali. Sebagai warga Negara yang baik saya pengen ikutan berpartisipasi dan menggunakan hak pilih saya. Tapi capres-capres yang ada saling serang seperti anak kecil tanpa menggunakan intelektual yang tinggi. Padahal, mereka itu kan calon pemimpin bangsa yah, kemampuan berpikir mereka harusnya di atas-atas-atas rata-rata dong ya?
Saya kepikiran buat golput, tapi fatwa MUI bilang golput itu haram. Sumpah saya geleng-geleng sendiri sambil ketawa-ketawa dengernya. Lama-lama saya bisa jadi gila kalo keadaan gini terus. Golput haram, tapi kok korupsi gak dibikin fatwanya ya? Kalo ada tingkatan super haram harusnya korupsi masuk golongan itu. Apa gak ada yang berani bilang bahwa MUI itu sudah melanggar hak asasi dari setiap warga di Indonesia?

Tapi gimanapun juga yang tahu haram ato enggaknya sesuatu kan Yang Diatas yah, daripada kalo kita nyoblos gara-gara iseng ato gambar partainya bagus dan ternyata itu partai bobrok dan ngerugiin Indonesia, kita sendiri lho yang dosa, ikut andil dalam menyengsarakan bangsa.

Berkaitan juga sama pemilu, kita kan nyoblos kertas suara ya, tapi sampe sekarang belum selesai di validasi. Permasalahannya sepele, warna gambar partai gak sesuai, nama caleg gak sesuai, hurufnya ada yang gede ada yang kecil dan lain-lain. Padahal peraturannya itu kertas suara sudah harus siap sebulan sebelum pemilu. Apa iya dalam tempo 30 hari, kertas suara selsesai dicetak trus di distribusiin sesuai aturan tanpa ada masalah ato apa.

Wong pilkada jatim aja diulang, gimana kalo salahnya ada di kertas suaranya? Apa iya masyarakat seluruh Indonesia harus nyoblos lagi? Trus nanti ada masalah pencoblos di bawah umur, ada yang punya kertas suara lebih dari satu, dan lain-lain. Kalo kata Bilik Suara Kompas sih, kerja KPU gak beres disebabkan anggota-anggotanya suka jalan-jalan keluar negeri pake duit rakyat. Ha! Pemungutan suara ulang juga mengindikasikan seakan-akan partai yang kalah gak mau mengakui kekalahannya. Pak, Bu, pemilu ulang tuh cuma ngabis-ngabisin duit rakyat aja tau.
So, kalo kayak gini terus, mending nyoblos ato golput? 

10 februari 2009